Minggu, 30 Desember 2012

Beberapa jenis Mainan yang COCOK untuk anak AUTIS


Memilih dan memberikan mainan yang tepat untuk anak-anak autis tidaklah mudah.
Namun ini penting karena pilihan mainan yang tepat membantu anak merasa percaya diri dan mampu berinteraksi dengan teman-temannya.
Berikut adalah beberapa mainan yang bisa dipilih untuk anak-anak dengan autisme:

1. Video Animasi
Video animasi atau bernyanyi melalui video merupakan pilihan yang sangat bagus untuk anak-anak autis.
Anak-anak autis bisa sambil belajar berbicara dengan menonton video ini.
Karakter dalam video diharapkan menginspirasi sehingga anak mencoba meniru tingkah laku karakter tersebut.
Ini bisa menjadi cara yang sangat menyenangkan dan menarik untuk belajar bagi anak-anak autis.

2. Kotak Musik
Kotak musik juga bisa menjadi pilihan mainan yang baik untuk balita dengan autisme.
Kotak musik merangsang anak memadupadankan suara dari berbagai alat musik untuk membuat komposisi yang unik.
Ini memberikan kepuasan pada anak-anak karena mereka mendapatkan pengalaman mendengarkan berbagai suara yang berbeda.

3. Trampolin
Banyak anak-anak autis suka bermain dengan trampolin.
Anak-anak autis memiliki ketidakseimbangan sistem sensorik.
Saat bermain di atas trampolin mereka akan belajar merasakan berbagai posisi tubuh dan respon tubuh.
Selain itu, melompat dan menyeimbangkan tubuh pada trampolin membantu anak mengintegrasikan berbagai sistem tubuh.

4. Teka-teki Jigsaw
Teka-teki jigsaw membantu membangun tingkat kepercayaan diri anak-anak autis.

5. Puzzle
Bermain dan menyusun puzzle juga bisa meningkatkan konsentrasi serta kesabaran anak.

Kamis, 27 Desember 2012

Mengatasi Kemarahan Anak akibat Belum terpenuhi Janji Orang Tua

 Semua orang tua tentu ingin anaknya bahagia, salah satu caranya adalah dengan menjajikan sesuatu hal kepada anak,baik berjanji memberikan sesuatu atau mengajaknya ke suatu tempat. Anak akan mulai membayangkan terwujudnya janji tersebut dan memupuk harapannya sampai saat yang dijanjikan datang.

  Hal penting bagi orang tua  dalam berjanji adalalah kesanggupan kita dalam menepatinya. Salah satu akibat dari janji yang tidak di tepati adalah munculnya kemarahan pada anak. Kemarahan tidak boleh dianggap sebagai perkara mudah karena dapat membawa pengaruh buruk pada hubungan harmonis antara anak dan orang tua.  Orang tua dapat kehilangan wibawa dihadapan anak, anak dapat kehilangan rasa percaya yerhadap orang tua.

  Ada hal yang lebih berbahaya dalam kaitan dengan kencenderungan anak meniru tingkah laku orang orang di sekitarnya . Seringnya orang tua mengingkari janji dapat membuat anak merasa memperoleh legitimasi untuk dengan sengaja melanggar aturan yang telah disepakati bersama.

BERIKUT BEBERAPA LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN DALAM MENGHADAPI KEMARAHAN ANAK KETIKA KITA, PARA ORANG TUA, TANPA SENGAJA LALAI MENEPATI JANJI.
  1. Mengakui kesalahan pengakuan kita tidak hanya bertujuan untuk meredakan kemarahannya,tetapi juga untuk memberikan contoh kepada anak agar bertanggung jawab atas segala tindakan yg telah dilakukan.dalam hal ini perlu di bangun komunikasi yang efektif dan terbuka anatara anak dan orang tua untuk saling mengingatkan jika ada yang melakukan kesalahan.
  2. Jangan sungkan untuk meminta maaf kepada anak atas tindakan kita lakukan dengan tulus dan sungguh sungguh. Kata maaf dapat menguatkan ikatan batin antara orang tua dan anak, karena anak merasa dihargai.
  3. Berikan penjelasan yang jujur dan mudah di pahami kepada anak mengenai alasan kita dapat memenuhi janji , jangan mencari cari alasan apalagiu melimpahkan kesalahan kepada orang lain.
  4. Mintalah anak untuk mengutarakan perasaanya . yakinkania bahwa perasaan yang di utarakan tidak akan membuat kita marah. Cobalah menunjukkan bahwa kita mengerti dan merasakan pula apa yang dia rasakan.
  5. Diskusikanlah mengenai segala kemungkinan yg dapat diberikan sebagai konsekuensi dari kelalianyang kita lakukan karena tidak menepati janji kepadanya. Kemudian berusahalah untuk menepatinya. 
Hal penting yang harus dipikirkan sebelum berjanji adalah mampu atau tidaknya kita menepati janji itu.Jangan menjajikan sesuatu karena terpaksa dengan tujuan supaya anak berhenti menangis, ngambek/ bertingkah ini itu.
Sebaliknya berikanlah ia pengertian dengan bahasa yang mudah di mengerti dengan penuh rasa kasih sayangf mengenai kapan kita dapat me,menuhi keinginannya.

 

Rabu, 26 Desember 2012

Menyikapi Anak Manja

   Anak manja adalah anak yang selalu mengharapkan perhatian berlebihan dari lingkungan sekelilingnya dan diikuti dengan keinginannya untuk serba di turuti segala kemauannya. akibatnya anakpun mengembangkan kepribadian untuk lebih mudah " menerima daripada memberi "

   .Tidak sedikit orang tua secara tidak sadar telah memanjakan anak. orang tua yg merasa bersalah, misalnya ibu atau ayah yang terlalu sibuk bekerja, kadang kadang mrelakukan kompensasi dengan memanjakan anak.

    Yang paling dirugikan dalam hal ini adalah sang anak tercinta. Anak yang terlalu dimanja cenderung akan mempunyai masalah sepanjang hidupnya. Ia akan mengalami hambatan penyesuaian diri dalam pergaulan dan kelak akan sulit bekerja sama dengan orang lain. Hal ini dapat terjadi karena tidak mungkin setiap orang yang berada di sekitarnya akan bersedia mengikuti dan menuruti apa yang di inginkannya.

HAL PENTING YANG HARUS DILAKUKAN ORANG TUA DALAM MENGHADAPI ANAK MANJA.
  1. berani mengatakan kepada anak bahwa sikapnya selama ini salah . orang tua berkewajiban membantu anak untuk memperbaikinya
  2. Doronglah anak unyuk bersikap lebih mandiri tanpa membanding bandingkan dengan anak yang lain agar kepercayaan dirinya tidak hancur
  3. Berikan kesempatan kepada anak untuk memperluas lingkup pergaulannya misalnya: mengikutsertakan pada sanggar, acara lomba,  atau diajak menghadiri acara yang menghadirkan orang banyak,dengan demikian anak akan dengan wawasan yang lebih luas anak bisa membuat perbandingan sendiri antara kemampuan dirinya dg anak lain yang sebaya, hal ini akan lebih mudah menarik anak untuk lebih mandiri dan mengurangi sifat kemanjaanya
  4. Tegaskanlah kepada anak bahwa sekarang ibu atau ayah akan bersikap lebih tegas dan berani mengurangi perhatian yang berlebihan kepada anak. Hal ini bukan berarti orang tua tidak sayang tetapi semua demi kepentingan terbaik sang anak di kemudian hari
  5. Berikan pujian yang tulus setiap kali anak mulai menunjukkan perubahan perilakunya walau sekecil apapun

PERAN POLA ASUH DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK

“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu? Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta
Para guru dan orang tua, ijinkan saya bertanya kepada Anda… Pernahkan kita berpikir bahwa program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, akan terus mendominasi dan mengendalikan hidupnya – membuatnya jadi berantakan di masa depan? Jika mau jujur melakukan evaluasi pada diri sendiri, bisa jadi kita semua termasuk saya sebagai orang tua telah dan sedang melakukan hal ini terhadap anak-anak kita.

Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya

Jujur sejak saya menikah, saya beruntung sekali memiliki istri yang peduli dengan perkembangan anak kami. Kami saling mengingatkan ucapan yang keluar dari mulut kami dan sikap serta perilaku kami yang “berbahaya” bagi anak kita. Kita sadar betul anak tidak perlu diajarkan sesuatu melalui komunikasi, hanya melihat saja maka itu sudah belajar dan direkam di otaknya. Kami sangat menjaga itu.
Seperti judul diatas pola asuh adalah pendidikan karakter. Bagi kita orang tua, karakter apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita? Berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Maka dengan mudah anak akan mencontohnya dan menyimpannya dalam memory bawah sadarnya dan akan dikeluarkan kembali pada saat “ada pemicunya”. Maksudnya? Saat kita memberikan contoh hormat dan sayang pada pasangan kita, saat anak kita menikah kelak maka dia akan mencontoh perilaku kita orang tua-nya terhadap pasangannya.
Sekarang ini sangat berlaku sekali kata-kata mutiara “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” dan itu saya rasakan betul saat banyak klien saya yang merasakan bahwa kehidupannya adalah hasil dari “fotocopy” orang tua-nya. Kalo orang tua-nya memberikan pengaruh yang baik tidak masalah, tetapi jika rumah tangga berantakan seperti orang tua-nya maka ini adalah suatu musibah. Kenapa ini terjadi? Yah, saya rasa Anda sudah tahu jawabannya bukan?
Jadilah teladan bagi buah hati tercinta kita, pada mula dan awalnya anak akan selalu belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua. Mereka menyerap informasi dengan baiknya dari kelima indra mereka. Bukan hanya perkataan orang tua tapi sikap serta perilaku orang tua akan mereka serap juga, bahkan secara Anda tidak sadari.
Jika kita orang tua, ingin tahu berapa nilai Anda sebagai orang tua dalam mendidik anak, ada cara mudah mengetahuinya. Raport pertama anak kita pada waktu sekolah (play group atau TK), itu adalah raport milik kita orang tua, bukan anak. Anda dapat berkaca dari hasil tersebut, bagaimana kualitas “produk” (baca: anak) Anda. Nah itu adalah raport awal saat 3-5 tahun Anda membentuk keluarga dan mendidik anak. Tapi jika mau tahu hasil akhirnya lihatlah kehidupan anak Anda ketika dia sudah berada didalam kehidupan sebenarnya. Lihatlah pergaulannya, cara berbicara dan bersikap dan jika kita orang tua lebih jeli dan bijak lihat keuangannya. Semakin baik kondisi keuangan anak Anda berbanding lurus dengan karakter yang dimiliki anak Anda (yang halal tentunya).

Bolehkah menghukum anak ????????

"Menerapkan Hukuman Yang Efektif "


Apakah kita termasuk orang tua yang cenderung memukul anak-anak ketika mereka melakukan perilaku buruk? jika jawabannya iya, maka kita kita cenderung menghentikan mereka pada tingkat perkembangan moral yang paling rendah. karena anak -anak akan akan cenderung hanya berniat menghindari hukuman karena takut, bukannya melakukan apa yang baik atau benar.

Berikut beberapa prinsip dasar yang perlu di ketahui oleh para orang tua dalam menerapkan hukuman  yang mana bertujuan agar hukuman menjadi efektif  untuk mengubah perilaku putra putri untuk menjadi lebih baik.
a. Sudah disepakati sebelumnya
    peraturan yang baik adalah peraturan yang sudah di bicarakan dan di sepakati terlebih dahulu.tentunya
    juga sudah di diskusikan sanksi atau hukuman apa yg akan di berikan jika peraturan di langgar.hal ini
   dapat mengajarkan anak untuk bertanggung jawab atas perilakunya sendiri.
b.Hukuman sebaiknya berisi penetapan kontraktual dan spesifik dan jelas .hukum yang di berikan mengikuti
   pola  " setelah kamu melakukan x maka kamu boleh melakukan y" . peraturan ini mempunyai efek yang
   sangat kuat terhadap perilaku karena memberikan dorongan.
c. Reward n punishment ( hadiah dan hukuman )
    prinsipnya jika ada sanksi maka ada reaksi .jika perilaku yg baik di tambah dengan hadiah maka akan
    menjadi lebih kuat. sedangkan perilaku yang buruk di beri hukuman,diharapkan  perilaku tersebut tidak
    terulang lagi.
d. pengabaian sebagai bentuk hukuman teringan . pengabaian akan menumbuhkan perasaan tidak enak
    akibat ketidak pedulian orang disekitarnya.dengan begitu anak sadar bahwa dirinya telah melakukan
    kesalahan.
Perlu dipahami orang tua, bahwa yang harus disalahkan adalah perilakunya .pribadi anak sebagai " pelaku"
harus tetap memperoleh predikat baik. dengan demikian . anak akan merasa memperoleh kepercayaan bahwa di lain waktu mereka masih bisa memperbaiki kesalahan, semoga